CEREPEN YANG GAGAL MENJADI NILAI

Selasa, 18 Desember 2012


PATRIOTISME
DAN
SEMANGAT CINTA TANAH AIR

Sinar mentari mulai menyinari hari dari arah timur membuat seorang pemuda yang kesepian nan galau ini terbangun, sebut saja pemuda itu dengan panggilan Mark. Seperti biasanya ia memulai hari seperti orang yang tidak mempunyai semangat hidup dan tidak mempunyai pandangan untuk hidup. Mungkin sekarang seolah-olah dia seperti sampah yang gak berguna dan manusia yang terlahir untuk dihina, tetapi setiap manusia walaupun ia gak berguna dan hina selalu mempunyai harapan dan kesempatan untuk berubah selama mereka tetap percaya.
Hari itu bisa dikatakan merupakan titik balik dari kehidupannya. Saat itu ia dan kawan-kawanya mempunyai tugas untuk mewawancarai veteran perang di Surabaya. Mereka berangkat dari Jakarta menuju Surabaya pukul 08.30 WIB menggunkan mini bus. Dalam perjalanan si Mark hanya diam dan tidak ada yang memperdulikannya, hanya Riki yang masih baik dengannya dan Raka yang sering mengejek-nya.
Di tengah perjalanan mereka harus melewati hutan, dalam perjalanan di dalam hutan tiba-tiba mesin mini bus mereka mati. Karena mentari mulai bosan menyinari bumi dan tibalah bulan yang mengantikannya, mereka memutuskan untuk berkemah dihutan itu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga mentari sudah segan lagi menyinari bumi. Mereka mulai menurkan tenda, dan barang-barang bawaan masing-masing.


Begitu pun juga sang pencundang Mark, ia mulai menurunkan barang-barangnya dan barang temannya Riki dan mendirikan tenda atas perintah temanya Riki itu, yang sekarang ia anggap teman yang sebenarnya merupakan batu halangan terbesarnya untuk mengukir cita. Tanpa diduga seorang Raka yang sering megejek nya malah membantunya untuk mendirikan tenda tersebut. Mark akhirnya sadar bawa “Riki hanya berupaya meninggikan dirinya dengan mengeksploitasi orang yang lemah seperti dia”. Dan Raka yang terlihat buruk di matanya ternyata tidak seburuk yang ia kira. Memang benar di dunia yang kejam seperti ini seharusnya kita bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang bulus.
Akhirnya setelah mereka berdua menyelesaikan mendirikan tenda mereka berbincang-bincang tentang patriotisme.
Mark :” (duduk disebelah Raka) kenapa kau tadi  membantu ku?”
Raka : “Jangan salah sangka aku hanya kasihan kepadamu.”
Mark: “Walupun begitu aku ucapkan terima kasih. ehm.. dan  apakah kau mau menjadi
              temanku?”
Raka:”Oke,Tidak masalah. Tentu, (dengan nada bercanda)  tapi jangan lagi menjadi
            Sesorang yang bersikap seperti orang yang tidak  mempunyai semangat hidup”
Mark:” Tentu, aku akan berusaha. Dan apa yang kau tau tentang patriotisme?”
Raka: “Patriotisme? Sikap sesorang yang bersedia mengorbankan segala-galahnya untuk
             kejayaan  dan kemakmuran tanah airnya atau singkatnya semangat cinta tanah air.”
Mark:”ehm.. apakah menurut mu pemuda-pemuda penerus bangsa kita ini termasuk juga 
             kita memiliki jiwa patriotisme?”
Raka:” semangat patriotisme mungkin hanya sedikit yang mempunyainya, dan aku sendiri
              mungkin belum memiliki jiwa patriotisme”
Mark:” ya mungkin kamu benar. Dan aku juga merasa bawa aku tidak sama sekali memiliki
              semangat itu.”
Setelah meraka selesai akhirnya mereka memutuskan untuk tidur. Tetapi mark tidak tidur dan mulai menulis dan mengambil kesimpulan tentang sebuah negara dan cinta tanah air dari percakapaan tadi.
Mungkin benar semangat itu telah hilang dari para penerus bangsa ini, mereka lebih membanggakan budaya asing dibanding dengan budaya nasional mereka sendiri. Mereka lebih suka menghafalkan lirik lagu artis Korea di banding lagu nasional. Jangankan lagu nasional musik Indonesia saja mereka caci. “Seakan-akan mereka lupa jati dirinya, dimana ia dilahirkan,  dimana ia dibesarkan, dan di mana ia akan mengisi hari tuanya” dan apakah mereka juga lupa dengan pengorbanan para pejuang yang bertaruh segalanya hanya untuk memperjuangkan jargon yang melegenda ini “Merdeka Atau Mati”. Negara tidak perlu besar untuk dikenal tetapi membutuhkan para manusia yang benar-benar cinta pada tanah airnya.
Jika pemuda-pemuda calon penerus bangsa saja tidak bangga dengan negara nya sendiri terus siapa yang mau membangun negara  ini. Tentu nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kuam itu sendiri yang berusaha merubahnya. Jangankan bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan tanah air untuk upacara saja para pemuda masih mengeluh kesah. Bagimana jika suatu hari negara ini dalam keadaan genting dan terancam kedaulatannya. Apakah mereka mau dengan gagah mengakat senjata dan berani berbaku tebak di medan perang atau mereka malah lari ke negara lain  sebagai pengecut karena tidak memiliki keberanian dan kecintaan kepada tanah airnya.
Coba bayangkan dunia ini sebagai gajah dan manusia yang didalamnya adalah semut. Jika hanya satu semut ingin menaklukan gajah dengan caranya sendiri atau segelintir semut yang berecana menaklukan gajah dengan cara mereka maka itu tidak akan berhasil hanya banyak semut yang memiliki visi dan misi yang sama yang dapat menaklukan gajah. Artinya sebuah negara harus memiliki manusia yang memiliki visi dan misi yang sama yaitu cinta tanah air dan membangun tanah air untuk bisa meaklukan dunia. Tanpa ada persatuan visi dan misi maka tak akan pernah terwujud suatu tujuan.
Pikirkan apa yang bisa kamu berikan sekarang kepada tanah air mu, bukan malah berpikir dan menuntut hal yang bisa tanah air mu berikan kepadamu. Memang benar Indonesia termasuk negara berkembang dan banyak kekurangan dan tidak bisa di banggakan namun negara Jepang pun dulu juga pernah menjadi negara yang kecil dan tidak dianggap. Namun dampak dari kecintaan rakyat nya kepada tanah airnya dan kerja keras mereka bisa bangun dari keterpurukan dan menjadi negara yang di segani.
Seharunya kita bersyukur dengan apa yang telah di beri tuhan kepada kita. Dilahirkan di negara yang damai dan sudah merdeka ini. Tetapi bersyukur bukan diartikan malah berleha-leha bersukur yang baik itu dilakukan dengan berkerja keras untuk membangun negara kita cinta ini. Jangan sampai tuhan marah kepada kita dan merampas kembali kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pendahulu kita dengan ribuan darah dan keringat.
Sinar kembali datang dari arah timur tanda mentari mulai segan lagi menyinari dunia ini. Satu persatu dari mereka terbangun dan mempersiapkan barang-barang untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ada yang jangal di pagi itu. Barang – barang berharga dan bahan makanaan hilang dan dua orang dari kelompok itu hilang. Mereka berfikir bahwa dua orang itu lah yang menggambil. Yakini dua orang itu adalah Riki dan Rocman dan akhirnya mereka memutuskan untuk tetep melanjutkan perjalanan. Beruntung  jarak keluar hutan itu tidak terlalu jauh.
Setelah keluar dari hutan mereka memutuskan untuk melaporkan kejadiaan itu kepada polisi setempat.  Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kota surabaya.  Ketika hampir tiba di Surabaya mereka bertemu dengan mobil polisi yang mengejejar dua pengendara motor . Setelah terpojok akhirnya kedua pengendara motor itu berhasil tertangkap. Ternyata mereka merupkan kedua teman mereka yang kabur dari kelompok mereka. Dan akhirnya kedua teman itu dijebloskan ke penjara dan akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Setiba di Surabaya mereka mencari tempat untuk sementara di tinggali. Setelah menemukannya mereka segera mempersiapkan pertanyaan yang akan diajukan kerpada bapak Herman yakini merupakan salah satu pejuang pada masanya. Setelah selesai mereka langgsung berangkat ke rumah bapak Herman dan akhirnya tiba waktu wawancara dan Mark ditunjuk untuk mewakili dan Robi yang merekam pembicaraan.
Mark: “Selamat pagi pak, Nama bapak siapa?”
pak Herman:”(dengan terbata-bata) selamat pagi dek, Herman.”
Mark:”dan Berapa umur bapak??
pak Herman: “ 89 tahun nak”
Mark : “Menurut bapak apakah keadaan Indonesia yang sekarang ini sudah sesuai dengan harapan bapak saat dulu  berbaku tembak melawan penjajah?”
pak Herman: Sama sekali tidak, dulu kami berpikir bawa negara ini akan besar setelah aku dan teman-teman ku berkorban  ribuan darah demi kemerdekaan negara ini. Dan sekarang malah banyak pemuda yang tidak mengormati jangan kan pemuda negara  yang dulu kami bela sekarang tidak membela kami banyak pensiunan seperti saya ini yang tidak di apresiasi “
Mark: “Saya juga turut prihatin semoga tuhan bisa mengubah semua ini. Dan terima kasih atas waktunya”
pak Herman: “ Amin nak. Sama-sama dek”


Setelah selesai mereka kembali ke penginapan mereka. Mark kembali menulis kesimpulan tentang wawancara tadi.
Bukankah negara yang besar merupakan negara yang menhormati para palawannya. Menghormati bukan dalam artian anda harus menghafal semua pejuang yang ada di tanah ini. Tetapi dengan mengisi kemerdekaan ini dengan terus membangun negeri. Mereka tidak butuh anda mengenalnya dan hafal betul nama nya yang mereka inginkan adalah negara yang besar dan maju yang mereka cita – cita kan dengan pertaruhan hidup mereka pada saat itu.
Bagimana bisa negara yang dulu mereka bela malah lupa dengan jasa - jasa  para pejuang yang mempertaruhkan hidupnya. Walau bagimana pun tanpa darah mereka kedaulatan negara ini tak akan jadi. Seharunya mereka sudah menikmati masa tua nya dengan melihat negara ini terus maju bukan malah mengalami kemunduran.
Sesudah menulis kesimpulan tadi Mark tertidur, dan esok nya mereka pulang ke Jakarta untuk mengumpulkan tugas mereka yang sudah selesai itu. Setiba di Jakarta, Mark memutuskan untuk menulis sebuah buku  yang terinpirasi dari kesimpulan yang telah ia tulis dalam perjalanannya itu. Tanpa diduga bukunya itu laku keras dan menjadi nasional best seller.
Siapa yang tau seorang Mark yang dulu nya pecundang sekarang menjadi sosok orang yang sukses. Siapapun anda dan seburuk apapun keadan anda bukan bearti tidak ada jalan untuk berubah percayalah selalu ada jalan. Setelah menemukannya yakinlah bawa itu merupakan jalan benar.




---The End

0 komentar:

Posting Komentar