PATRIOTISME
DAN
SEMANGAT
CINTA TANAH AIR
Sinar mentari mulai menyinari hari dari arah timur
membuat seorang pemuda yang kesepian nan galau ini terbangun, sebut saja pemuda
itu dengan panggilan Mark. Seperti biasanya ia memulai hari seperti orang yang
tidak mempunyai semangat hidup dan tidak mempunyai pandangan untuk hidup.
Mungkin sekarang seolah-olah dia seperti sampah yang gak berguna dan manusia
yang terlahir untuk dihina, tetapi setiap manusia walaupun ia gak berguna dan
hina selalu mempunyai harapan dan kesempatan untuk berubah selama mereka tetap
percaya.
Hari itu bisa dikatakan merupakan titik balik dari
kehidupannya. Saat itu ia dan kawan-kawanya mempunyai tugas untuk mewawancarai veteran perang di Surabaya. Mereka berangkat dari Jakarta menuju Surabaya pukul
08.30 WIB menggunkan mini bus. Dalam perjalanan si Mark hanya diam dan tidak ada yang memperdulikannya, hanya Riki yang
masih baik dengannya dan Raka yang sering mengejek-nya.
Di tengah perjalanan mereka harus melewati hutan, dalam
perjalanan di dalam hutan tiba-tiba mesin mini bus mereka mati. Karena mentari mulai bosan
menyinari bumi dan tibalah bulan yang mengantikannya, mereka memutuskan untuk
berkemah dihutan itu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga
mentari sudah segan lagi menyinari bumi. Mereka mulai menurkan tenda, dan barang-barang
bawaan masing-masing.
Begitu pun juga sang pencundang Mark, ia mulai
menurunkan barang-barangnya dan barang temannya Riki dan mendirikan tenda atas
perintah temanya Riki itu, yang sekarang ia anggap teman yang sebenarnya
merupakan batu halangan terbesarnya untuk mengukir cita. Tanpa diduga seorang
Raka yang sering megejek nya malah membantunya untuk mendirikan tenda tersebut.
Mark akhirnya sadar bawa “Riki hanya berupaya
meninggikan dirinya dengan mengeksploitasi orang yang lemah seperti dia”. Dan Raka yang terlihat buruk di matanya ternyata
tidak seburuk yang ia kira. Memang benar di dunia yang kejam seperti ini
seharusnya kita bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang
bulus.
Akhirnya setelah mereka berdua menyelesaikan
mendirikan tenda mereka berbincang-bincang tentang patriotisme.
Mark
:” (duduk disebelah Raka) kenapa kau tadi
membantu ku?”
Raka : “Jangan salah sangka aku
hanya kasihan kepadamu.”
Mark: “Walupun begitu aku ucapkan
terima kasih. ehm.. dan apakah kau mau
menjadi
temanku?”
Raka:”Oke,Tidak masalah. Tentu,
(dengan nada bercanda) tapi jangan lagi
menjadi
Sesorang yang bersikap seperti
orang yang tidak mempunyai semangat
hidup”
Mark:” Tentu, aku akan berusaha.
Dan apa yang kau tau tentang patriotisme?”
Raka: “Patriotisme? Sikap
sesorang yang bersedia mengorbankan segala-galahnya untuk
kejayaan dan kemakmuran tanah airnya atau singkatnya semangat
cinta tanah air.”
Mark:”ehm.. apakah menurut mu
pemuda-pemuda penerus bangsa kita ini termasuk juga
kita memiliki jiwa patriotisme?”
Raka:” semangat patriotisme
mungkin hanya sedikit yang mempunyainya, dan aku sendiri
mungkin
belum memiliki jiwa patriotisme”
Mark:” ya mungkin
kamu benar. Dan aku juga merasa bawa aku tidak sama sekali memiliki
semangat itu.”
Setelah meraka selesai akhirnya mereka memutuskan untuk
tidur. Tetapi mark tidak tidur dan mulai menulis dan mengambil kesimpulan
tentang sebuah negara dan cinta tanah air dari percakapaan tadi.
Mungkin
benar semangat itu telah hilang dari para penerus bangsa ini, mereka lebih
membanggakan budaya asing dibanding dengan budaya nasional mereka sendiri.
Mereka lebih suka menghafalkan lirik lagu artis Korea di banding lagu nasional.
Jangankan lagu nasional musik Indonesia saja mereka caci. “Seakan-akan mereka lupa jati
dirinya, dimana ia dilahirkan, dimana ia
dibesarkan, dan di mana ia akan mengisi hari tuanya”
dan apakah mereka juga lupa dengan pengorbanan para pejuang yang bertaruh segalanya
hanya untuk memperjuangkan jargon yang melegenda ini “Merdeka Atau Mati”. Negara
tidak perlu besar untuk dikenal tetapi membutuhkan para manusia yang benar-benar
cinta pada tanah airnya.
Jika
pemuda-pemuda calon penerus bangsa saja tidak bangga dengan negara nya sendiri
terus siapa yang mau membangun negara
ini. Tentu nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kuam itu sendiri
yang berusaha merubahnya. Jangankan bersedia mengorbankan segala-galanya untuk
kejayaan tanah air untuk upacara saja para pemuda masih mengeluh kesah.
Bagimana jika suatu hari negara ini dalam keadaan genting dan terancam kedaulatannya.
Apakah mereka mau dengan gagah mengakat senjata dan berani berbaku tebak di
medan perang atau mereka malah lari ke negara lain sebagai pengecut karena tidak memiliki
keberanian dan kecintaan kepada tanah airnya.
Coba
bayangkan dunia ini sebagai gajah dan manusia yang didalamnya adalah semut.
Jika hanya satu semut ingin menaklukan gajah dengan caranya sendiri atau
segelintir semut yang berecana menaklukan gajah dengan cara mereka maka itu
tidak akan berhasil hanya banyak semut yang memiliki visi dan misi yang sama
yang dapat menaklukan gajah. Artinya sebuah negara harus memiliki manusia yang
memiliki visi dan misi yang sama yaitu cinta tanah air dan membangun tanah air
untuk bisa meaklukan dunia. Tanpa ada persatuan visi dan misi maka tak akan
pernah terwujud suatu tujuan.
Pikirkan apa yang bisa kamu berikan
sekarang kepada tanah air mu, bukan malah berpikir dan menuntut hal yang bisa
tanah air mu berikan kepadamu. Memang benar Indonesia termasuk negara
berkembang dan banyak kekurangan dan tidak bisa di banggakan namun negara
Jepang pun dulu juga pernah menjadi negara yang kecil dan tidak dianggap. Namun dampak dari kecintaan rakyat nya kepada tanah
airnya dan kerja keras mereka bisa bangun dari keterpurukan dan menjadi negara
yang di segani.
Seharunya kita bersyukur dengan apa yang telah di beri
tuhan kepada kita. Dilahirkan di negara yang damai dan sudah merdeka ini.
Tetapi bersyukur bukan diartikan malah berleha-leha bersukur yang baik itu
dilakukan dengan berkerja keras untuk membangun negara kita cinta ini. Jangan
sampai tuhan marah kepada kita dan merampas kembali kemerdekaan yang telah
diperjuangkan oleh pendahulu kita dengan ribuan darah dan keringat.
Sinar kembali datang dari arah timur tanda mentari mulai
segan lagi menyinari dunia ini. Satu persatu dari mereka terbangun dan
mempersiapkan barang-barang untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ada yang
jangal di pagi itu. Barang – barang berharga dan bahan makanaan hilang dan dua
orang dari kelompok itu hilang. Mereka berfikir bahwa dua orang itu lah yang
menggambil. Yakini dua orang itu adalah Riki dan Rocman dan akhirnya mereka
memutuskan untuk tetep melanjutkan perjalanan. Beruntung jarak keluar hutan itu tidak terlalu jauh.
Setelah keluar dari hutan mereka memutuskan untuk
melaporkan kejadiaan itu kepada polisi setempat. Kemudian mereka kembali melanjutkan
perjalanan ke kota surabaya. Ketika
hampir tiba di Surabaya mereka bertemu dengan mobil polisi yang mengejejar dua
pengendara motor . Setelah terpojok akhirnya kedua pengendara motor itu berhasil
tertangkap. Ternyata mereka merupkan kedua teman mereka yang kabur dari
kelompok mereka. Dan akhirnya kedua teman itu dijebloskan ke penjara dan
akhirnya mereka kembali melanjutkan
perjalanan.
Setiba
di Surabaya mereka mencari tempat untuk sementara di tinggali. Setelah
menemukannya mereka segera mempersiapkan pertanyaan yang akan diajukan kerpada
bapak Herman yakini merupakan salah satu pejuang pada masanya. Setelah selesai
mereka langgsung berangkat ke rumah bapak Herman dan akhirnya tiba waktu
wawancara dan Mark ditunjuk untuk mewakili dan Robi yang merekam pembicaraan.
Mark: “Selamat pagi pak, Nama bapak siapa?”
pak Herman:”(dengan terbata-bata) selamat pagi dek, Herman.”
Mark:”dan Berapa umur bapak??
pak Herman: “ 89 tahun nak”
Mark : “Menurut bapak apakah keadaan Indonesia yang sekarang
ini sudah sesuai dengan harapan bapak saat dulu
berbaku tembak melawan penjajah?”
pak Herman: Sama sekali tidak, dulu kami berpikir bawa
negara ini akan besar setelah aku dan teman-teman ku berkorban ribuan darah demi kemerdekaan negara ini. Dan
sekarang malah banyak pemuda yang tidak mengormati jangan kan pemuda negara yang dulu kami bela sekarang tidak membela
kami banyak pensiunan seperti saya ini yang tidak di apresiasi “
Mark: “Saya juga turut prihatin semoga tuhan bisa mengubah
semua ini. Dan terima kasih atas waktunya”
pak Herman: “ Amin nak. Sama-sama dek”
Setelah selesai
mereka kembali ke penginapan mereka. Mark kembali menulis kesimpulan tentang
wawancara tadi.
Bukankah negara yang
besar merupakan negara yang menhormati para palawannya. Menghormati bukan dalam
artian anda harus menghafal semua pejuang yang ada di tanah ini. Tetapi dengan
mengisi kemerdekaan ini dengan terus membangun negeri. Mereka tidak butuh anda
mengenalnya dan hafal betul nama nya yang mereka inginkan adalah negara yang
besar dan maju yang mereka cita – cita kan dengan pertaruhan hidup mereka pada
saat itu.
Bagimana bisa negara
yang dulu mereka bela malah lupa dengan jasa - jasa para pejuang yang mempertaruhkan hidupnya.
Walau bagimana pun tanpa darah mereka kedaulatan negara ini tak akan jadi.
Seharunya mereka sudah menikmati masa tua nya dengan melihat negara ini terus
maju bukan malah mengalami kemunduran.
Sesudah menulis
kesimpulan tadi Mark tertidur, dan esok nya mereka pulang ke Jakarta untuk
mengumpulkan tugas mereka yang sudah selesai itu. Setiba di Jakarta, Mark
memutuskan untuk menulis sebuah buku yang
terinpirasi dari kesimpulan yang telah ia tulis dalam perjalanannya itu. Tanpa
diduga bukunya itu laku keras dan menjadi nasional best seller.
Siapa yang tau
seorang Mark yang dulu nya pecundang sekarang menjadi sosok orang yang sukses.
Siapapun anda dan seburuk apapun keadan anda bukan bearti tidak ada jalan untuk
berubah percayalah selalu ada jalan. Setelah menemukannya yakinlah bawa itu
merupakan jalan benar.
---The End
0 komentar:
Posting Komentar